Baksos Panti Asuhan se-Malang Raya

Aktivitas ini rutin dilakukan sebulan sekali bersama Sahabat Insan Cita dan GSKB.

D Zawawi Imron: Si Celurit Emas

Kenangan-kenangan berupa buku antologi D Zawawi Imron yang fenomenal.

Workshop Kepenulisan

Kami mendukung komunitas-komunitas yang mengadakan acara kepenulisan.

Bazar Buku

Buku-buku terbitan kami akan dipasarakan melalui online, toko buku dan juga bazar-bazar buku.

Tampilkan postingan dengan label Gramedia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gramedia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Maret 2014

Bisakah Mendistribusikan Buku Kita Di Gramedia?


“Kalau saya menerbitkan buku secara self publishing di Penerbit Insan Cita, apakah buku saya akan dijual di toko buku se-Indonesia, seperti Gramedia, Gunung Agung, dst?”

“Buku-buku self publishing hanya bisa dijual secara online. Tak bisa dijual di toko buku seperti Gramedia.”

Dua kutipan di atas adalah contoh pertanyaan salah kaprah mengenai self publishing.

Ya, ternyata banyak sekali orang yang keliru dan salah persepsi, mengira bahwa layanan self publishing tak mungkin bisa menjualkan buku-buku mereka di toko buku besar seperti Gramedia, Gunung Agung, dan sebagainya.

Padahal, berikut adalah fakta yang sebenarnya.

Fakta Satu:

  • Masalah “di mana buku kita dijual” itu ditentukan oleh perusahaan distributor, BUKAN oleh penerbit. 
  • Penerbit itu tugasnya menerbitkan buku. Adapun yang mendistribusikan (menyebarluaskan) buku kita ke Gramedia, Gunung Agung, dan sebagainya, itu adalah tugas perusahaan distributor. 
  • Jadi, soal luas tidaknya jaringan penjualan buku kita TIDAK ditentukan oleh “di penerbit mana buku kita diterbitkan”. Tapi ditentukan oleh “distributor mana yang kita ajak bekerja sama”. 
  • Jadi walau misalnya buku Anda diterbitkan oleh sebuah penerbit yang masih sangat berskala kecil, bahkan dikelola oleh perorangan, bisa saja buku tersebut tersebar luas ke seluruh pelosok Tanah Air, jika si penerbit bekerja sama dengan distributor yang punya jaringan ke seluruh pelosok Tanah Air.

Fakta Dua:

  • Penerbit Insan Cita adalah layanan self publishing. Artinya, semua keputusan dan wewenang dalam penerbitan buku sepenuhnya berada di tangan penulis. Termasuk dalam hal penjualan buku. Si penulis bebas menentukan, bukunya mau dijual di mana saja. Apakah dijual di toko buku Gramedia se-Indonesia, atau secara online saja, atau di bis kota oleh pedagang asongan, atau di mana saja, ini sepenuhnya menjadi wewenang penulis. 
  • Fungsi Penerbit Insan Cita hanya sebatas mendukung Anda. Kami mengikuti kemauan Anda. Bila ingin buku Anda dijual di Gramedia misalnya, maka kami bantu menyebarluaskannya ke sana, melalui perusahaan distributor mitra kami. Demikian seterusnya.

Fakta Tiga:

  • Salah satu prinsip umum lainnya dari self publishing adalah: Semua biaya penerbitan ditanggung oleh penulis. 
  • Agar buku Anda bisa disebarluaskan di toko buku Gramedia se-Indonesia misalnya, maka Anda harus mencetak buku tersebut minimal 2.000 eksemplar. 
  • Untuk mencetak buku sebanyak itu, tentu butuh modal yang tidak sedikit. Jumlah pastinya tentu sangat relatif, tergantung spesifikasi buku Anda. Yang jelas, jumlahnya bisa mencapai puluhan juta rupiah. 
  • Nah, apakah Anda saat ini punya dana puluhan juta rupiah, agar buku Anda bisa disebarluaskan ke toko buku Gramedia se-Indonesia? 
  • Jika ada, tentu tak ada masalah. 
  • Tapi jika belum ada, tentu ini jadi masalah. Sebab toko buku seperti Gramedia TIDAK BERSEDIA menjual buku Anda yang jumlahnya hanya 10 atau 50 eksemplar. Kalau 500 eksemplar mungkin masih mereka terima, tapi biasanya hanya dijual di satu kota saja, misalnya Jakarta.

Kesimpulan:

Bisa tidaknya buku Anda dijual di toko buku Gramedia se-Indonesia ditentukan oleh ada tidaknya anggaran Anda untuk mencetak buku minimal 2.000 eksemplar. Hanya itu saja syaratnya(*). Jadi masalah bisa tidaknya ini sama sekali TIDAK ADA hubungannya dengan “di penerbit mana buku Anda diterbitkan”.

Catatan:
(*) Sebagai toko buku, Gramedia dan toko-toko lainnya pun bisa menolak untuk menjual buku Anda, dengan alasan atau pertimbangan tertentu. Atau bisa juga, mereka hanya bersedia menjual 1.000 eksemplar buku Anda, padahal yang Anda tawarkan adalah (misalnya) 2.000 eksemplar. Jadi, selain masalah anggaran, faktor kebijakan si toko buku juga ikut menentukan apakah buku Anda bisa dijual di toko buku (Gramedia dst) atau tidak.

Anggaran Anda Terbatas?

  • Jika anggaran Anda belum cukup untuk mencetak buku minimal 2.000 eksemplar (agar bisa dijual di toko buku Gramedia se-Indonesia), maka tentu saja Anda harus realistis. Terbitkan saja buku Anda dengan konsep yang sesuai anggaran riil. Jika Anda hanya bisa mencetak sedikit (misalnya 20 eksemplar), maka UNTUK SEMENTARA dijual secara online pun tak masalah. 
  • Sambil jualan, terus gencarkan marketing, kelola keuangannya dengan baik, agar suatu saat nanti buku Anda bisa dijual di Gramedia se-Indonesia. 
  • Penerbit Insan Cita insya Allah siap membantu Anda untuk menerbitkan buku, tidak peduli berapapun anggaran yang Anda miliki.

Biaya Penjualan Buku di Gramedia?

“Kalau buku saya dijual di Gramedia dan toko buku lain, berapa biaya yang harus saya bayar?”

Ini adalah salah satu pertanyaan salah kaprah lainnya di dunia penerbitan buku.
Sebenarnya, BIAYA PENJUALAN BUKU itu sama sekali tidak ada. Agar buku Anda bisa dijual di Gramedia misalnya, Anda tidak perlu membayar biaya apapun, baik kepada Gramedia maupun kepada Penerbit Insan Cita, atau kepada siapapun.

“Kalau saya tidak perlu membayar biaya penjualan buku, dari mana Gramedia mendapat penghasilan?”

Mereka mendapat penghasilan dari bagi hasil penjualan buku. Berikut info detilnya:
  1. Penerbit (misalnya Penerbit Insan Cita) bekerja sama dengan perusahaan distributor. Buku-buku terbitan si penerbit akan diserahkan kepada mereka.
  2. Si perusahaan distributor akan menyebarluaskan buku tersebut ke Gramedia, Gunung Agung dan toko buku lainnya.
  3. Sebulan sekali, pihak toko buku (misalnya Gramedia) akan mengirim laporan kepada distributor. Isi laporan tersebut adalah informasi tentang jumlah buku yang terjual.
  4. Pihak distributor akan meneruskan laporan tersebut kepada penerbit.
  5. Pihak penerbit akan meneruskan laporan tersebut kepada Anda sebagai penulis.
  6. Untuk setiap eksemplar buku yang terjual, biasanya pihak toko buku dan distributor akan meminta bagi hasil sekitar 50 hingga 55 persen dari harga jual buku. Jadi jika misalnya:
    - harga buku Rp 50.000
    - jumlah buku yang terjual selama satu bulan adalah 200 eksemplar
    - bagi hasil toko buku dan distributor 55%
    maka si toko buku dan distributor akan mendapat bagi hasil sebesar (55% xRp 50.000) x 200 eksemplar = Rp 5.500.000
  7. Penghasilan si toko buku (seperti Gramedia) dan distributor berasal dari bagi hasil tersebut.
Terima kasih, semoga bermanfaat :)
Sumber: http://www.dapurbuku.com/bantuan/bisakah-buku-self-publishing-dijual-di-gramedia-se-indonesia/

Sabtu, 22 Maret 2014

Think Again: Online Marketing or Gramedia?


Memasarkan buku yang kita miliki sendiri di toko buku nasional seperti Gramedia, tentunya menjadi sebuah harapan yang sangat dinanti-nanti dan juga membanggakan bagi kebanyakan penulis. Padahal, banyak faktor yang harus dipersiapkan sebelum kita memutuskan untuk memasarkan buku-buku kita. Artikel ini akan mengajak kita untuk berfikir ulang dan serta membuka wawasan seputar fakta-fakta mengenai dunia pemasaran buku.

Fakta Satu:

  • Jika si penulis rajin berpromosi, sudah sering terbukti bahwa penjualan langsung oleh penulisnya (secara online) seringkali jauh lebih berhasil ketimbang penjualan di toko buku. 
  • Salah satu contohnya adalah buku Bunda of Arabia (yang diterbitkan oleh sebuah layanan self publishing) yang terjual 800 eksemplar dalam waktu kurang dari 1 bulan, padahal hanya dipasarkan secara online. Rahasia suksesnya: Para penulis yang tergabung di buku antologi ini sangat gencar dalam berpromosi. 
  • Contoh lainnya adalah buku Gerbong Kehidupan karya Diah Kusumawati. Hanya dalam hitungan 10 hari, bukunya sudah laku terjual sebanyak hampir 300 eksemplar. Padahal (lagi-lagi) hanya dipasarkan lewat online dan promosi dari mulut ke mulut. 
  • Arvan Pradiansyah yang buku-bukunya selalu best seller pun, pernah bercerita bahwa salah satu bukunya "I Love Monday" lebih banyak dibeli secara online ketimbang di Gramedia. 
  • Hal serupa juga dialami Jonru. Penjualan bukunya "Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat" di Gramedia tak terlalu berhasil. Tapi jualan secara online justru laris manis.

Fakta Dua:

  • Jika buku kita dijual di toko buku nasional, maka bagi hasil yang kita terima relatif lebih sedikit, karena pihak toko buku dan distributor mendapat bagi hasil 50-55% dari harga jual buku.
  • Untuk lebih jelasnya, coba deh kita hitung:
  • Katakanlah biaya cetak buku Anda Rp 10.000,-/eksemplar. Harga jual Rp 48.000,-
  • Bila dijual secara online oleh Anda sendiri, maka Anda bisa mendapat keuntungan Rp 38.000,-/eksemplar buku.
  • Bila buku tersebut dijual di Gramedia, maka 55% dari hasil penjualan sudah menjadi hak distributor (termasuk toko buku Gramedia).
  • Artinya: 
  • Bagi hasil distributor = 55% X Rp 48.000,- = Rp 26.400,-
  • Biaya cetak = Rp 10.000,-
  • Sisa buat Anda = Rp 48.000,- – (Rp 26.400,- + Rp 10.000,-) = Rp 11.600,-/eksemplar buku.
  • Dari hitung-hitungan di atas, Anda pasti bisa membandingkan, mana yang hasilnya lebih besar, bukan?
  • NB: (*) Ini hanya angka ilustasi, bukan angka riil. Sebab biaya percetakan buku itu sangat relatif, tergantung banyak hal.

Fakta Tiga:

  • Jika buku Anda ternyata kurang laku, maka ia akan DIGUSUR KE GUDANG, tidak tersedia lagi di rak toko.
  • Mengapa? Karena toko buku seperti Gramedia tentu berpikir secara bisnis. Mereka tentu merasa rugi untuk memajang buku yang terbukti tidak laku. Lebih baik rak buku mereka diisi dengan buku lain yang lebih laku.
  • Maka akibatnya: Buku Anda yang masih banyak stoknya tersebut pun hampir tak bisa lagi dijual. Bagaimana mungkin, buku yang tersimpan di gudang bisa dijual?
  • Bila kondisi seperti ini terjadi, tentu akan melahirkan DILEMA BESAR bagi penulis:
  • Di satu sisi Anda ingin agar sisa stok buku tersebut bisa terjual sesegera mungkin, karena modal Anda “tersimpan” di lembar-lembar kertasnya.
  • Tapi di sisi lain, keberadaannya di gudang membuat buku-buku tersebut sulit untuk terjual. Anda memang bisa saja meminta si toko buku untuk menariknya lalu diserahkan kepada Anda. Tapi untuk menarik buku dan menyerahkannya kepada si penulis (atau penerbit), biasanya butuh biaya khusus yang jumlahnya tidak sedikit.
  • Jika demikian kondisinya, bagaimana cara agar modal Anda yang tersimpan pada lembar-lembar buku tersebut bisa segera berubah menjadi lembar-lembar uang? Terus terang, caranya tidaklah terlalu mudah.
Nah, demikianlah beberapa fakta tentang penjualan buku di toko buku. Saran kami, berhentilah berpikir soal rasa bangga atau gengsi semata. Sebab gengsi dan rasa bangga tak bisa dimakan, tak bisa menghasilkan uang. Padahal untuk menerbitkan buku secara self publishing, Anda pasti sudah berinvestasi yang banyak untuk mencetak buku tersebut, bukan?

Solusi:

  • Jangan salah persepsi! Kami BUKAN antiGramedia.
  • Kami hanya ingin mengajak Anda untuk menjadi penulis yang smart, yakni penulis yang tidak hanya berpikir soal rasa bangga dan gengsi.
  • Penulis yang smart akan berpikir dengan cerdas dan kreatif. Dia sadar betul, bahwa dia sudah mengeluarkan modal yang besar untuk menerbitkan buku. Karena itu, dia berpikir seperti seorang pebisnis:
  • “Saya akan menjual buku saya dengan cara apapun yang memungkinkan buku saya bisa terjual dengan mudah dan cepat, sehingga modal saya cepat kembali.”
  • Tentu tak masalah bila Anda memutuskan untuk menjual buku Anda di toko buku Gramedia se-Indonesia. Keputusan tentu di tangan Anda. Tapi setelah membaca penjelasan di atas, saya yakin Anda mulai berpikir:
  • “Jika saya memutuskan untuk menjual buku saya di toko buku Gramedia se-Indonesia, maka saya pun HARUS SIAP UNTUK BEKERJA KERAS, agar seluruh buku tersebut bisa laris manis DALAM WAKTU KURANG DARI 2 BULAN, agar tidak sampai digusur ke gudang.”
  • Adapun jika:
  • Anda belum siap untuk bekerja keras seperti yang tertulis di atas;
  • Atau jika modal Anda untuk menerbitkan buku belum terlalu besar;
  • Atau jika Anda belum yakin akan laris tidaknya buku Anda,
  • Maka saran kami: Lupakan dulu rasa bangga dan gengsi tersebut. Sebab sekali lagi, gengsi dan rasa bangga tak bisa dimakan
  • Seperti yang kami jelaskan di atas, bukankah sudah banyak bukti tentang penulis yang bukunya laris manis, padahal hanya dijual secara online?
  • Bila setelah penjualan online ternyata terbukti bahwa buku Anda laris manis, disambut secara luar biasa oleh masyarakat, barulah Anda dengan PENUH KEYAKINAN bisa mencetak buku tersebut dalam jumlah besar, lalu mengedarkannya ke toko buku nasional se-Indonesia.
  • Semoga bermanfaat. Salam Sukses Selalu!


Sumber: http://www.dapurbuku.com/bantuan/jangan-buru-buru-menjual-buku-anda-di-gramedia/